Sabtu, 23 Maret 2013

Mengenal Kota Nganjuk


KABUPATEN NGANJUK
     JAWA  TIMUR                     Selamat datang di kota Nganjuk
                                              Nganjuk, di juluki Kota Angin.


 


             

                      

Nganjuk berbeda dengan kota yang lainya, udara segar dan masih virgin belum terkontaminasi oleh udara yang segar, yang berbatasan Kab, Bojonegoro sebelah Utara, Kab. Jombang sebelah timur,Kab. Kediri dan Kab.Ponorogo sebelah selatan, Kab. Madiun sebelah barat, selamat datang, selamat bernostalgia  ..............

Geografi

Kabupaten Nganjuk terletak antara 11105' sampai dengan 112013' BT dan 7020' sampai dengan 7059' LS. Luas Kabupaten Nganjuk adalah sekitar ± 122.433 Km2 atau 122.433 Ha yang terdiri dari at

       1. Tanah sawah 43.052.5 Ha
       2. Tanah kering 32.373.5 Ha
       3. Tanah hutan 47.007.0  Ha


Kab. Nganjuk  terletak di dataran rendah dan pegunngan,  Yang memiliki memiliki kondisi dan struktur pertanian   dan perkebunan. Kondisi dan struktur tanah yang produktif ini sekaligus ditunjang  sungai Widasyang mengalir sepanjang 69,332 km dan mengairi daerah seluas 3.236 Ha, dan sungai berantas yang mampu mengairi sawah seluas 12.705 Ha.

 SEJARAH

Nganjuk dahulunya bernama Anjuk Ladang yang berarti berarti Tanah Kemenangan.
 Dibangun pada tahun 859 Caka atau 937 Masehi.
Berdasarkan peta Jawa Tengah dan Jawa Timur awal tahun 1811 yang terdapat  buku tulisan Peter Carey yang berjudul : ”Orang Jawa dan masyarakat Cina (1755-1825)”, penerbit Pustaka Azet, Jakarta, 1986; diperoleh gambaran yang agak jelas tentang Kab.Nganjuk.  Daerah nGANJUK terbagi dalam 4 daerah yaitu Berebek, Godean, Nganjuk dan Kertosono  daerah yang dikuasai Belanda dan kasultanan Yogyakarta, sedangkan daerah Nganjuk merupakan mancanegara kasunanan Surakarta. Sejak adanya Perjanjian Sepreh 1830, atau tepatnya tanggal 4 juli 1830, maka wilayah Berebek, Kertosono, Nganjuk tunduk dibawah kekuasaan dan pengawasan Nederlandsch Gouverment. Kab. Berebek dibawah kepemimpinan Raden TOEMENGGOENG SOSRO KOESOEMO 1. Dimana tahun 1880 adalah tahun suatu kejadian yang diperingati yaitu mulainya kedudukan Kab. Berebek pindah ke Kab. Nganjuk
Dalam Statsblad van Nederlansch Indie No.107, dikeluarkan tanggal 4 Juni 1885, memuat SK Gubernur Jendral dari Nederlandsch Indie tanggal 30 Mei 1885 No 4/C tentang batas-batas Ibukota Toeloeng Ahoeng, Trenggalek,Ngandjuk dan kertosono antara lain disebutkan: III tot hoafdplaats Ngandjoek, afdeling Berbek, de navalgende Wijken en kampongs : de Chineeshe Wijk de kampong Mangoendikaran de kampong Pajaman de kampong Kaoeman. Dengan ditetapkannya Kota Nganjuk yang meliputi kampung dan desa tersebut di atas menjadi ibukota  Kab. Nganjuk, maka secara resmi pusat pemerintahan Kab. Berebek berkedudukan di Nganjuk n

Pembagian administratif

Nganjuk mempunyai 20 kecamatan dan 284 desa atau kelurahan.
 Kecamatan-kecamatan tersebut adalah:

1. Bagor                  11.Ngluyu
2. Baron                  12. Gondang
3. Berebek               13. Pace
4. Jati Kalen            14. Patian rowo     
5. Kertosono           15. Prambon
6. Lengkong            16. Rejoso     
7. Loceret               17. Sawahan
8. Nganjuk              18. Sukomoro
9. Ngetos                19. Tanjunganom
10.Ngronggot          20. Wilangan

Parawisata

Air terjun Sedudo
Sedudo.jpg










Air Terjun Sedudo
 adalah sebuah air terjun dan obyek wisata yang terletak di Desa Ngliman Kecamatan  Swahan sekitar 30 km arah selatan ibukota kabupaten Nganjuk. Berada pada ketinggian 1.438 meter dpl, ketinggian air terjun ini sekitar 105 meter. Tempat wisata ini memiliki fasilitas yang cukup baik, dan jalur transportasi yang mudah diakses.
Masyarakat setempat masih mempercayai, air terjun in memiliki kekuatan supra natural. Lokasi wisata alam ini ramai dikunjungi orang pada bulan Suro. Konon mitos yang ada sejak zaman Mojopahid, pada bulan itu dipercaya membawa berkah awet muda bagi orang yang mandi di air terjun tersebut.
Setiap Tahun Baru Jawa, air terjun Sedudo dipergunakan untuk upacara ritual, yaitu memandikan arca dalam upacara Parna Prahista, yang kemudian sisa airnya dipercikan untuk keluarga agar mendapat berkah keselamatan dan awet muda. Hingga sekarang pihak Pemkab Nganjuk secara rutin melaksanakan acara ritual Mandi Sedudo setiap tanggal 1 suro.

 Air Terjun Roro Kuning











  adalah sebuah air terjun yang berada sekitar 27-30 km selatan kota Nganjuk, di ketinggian 600 m, memiliki tinggi antara 10-15 m. Air terjun ini mengalir dari tiga sumber di sekitar Gunung Wilis yang mengalir merambat di sela-sela bebatuan padas di bawah pepohonan hutan pinus. Kemudian menjadi air terjun yang membentuk trisula. Dan karena proses mengalirnya itulah maka masyarakat Desa Bajulan menamakan air terjun merambat.
Selain keindahan alam, air terjun Roro Kuning juga memiliki nilai sejarah. Di sekitar lokasi ini terdapat monumen perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Monumen ini dibangun untuk mengenang perjuangan Jendral Sudirman saat memimpin perang gerilya melawan Belanda pada tahun 1949.

Selain menumen, di tempat ini juga terdapat sebuah rumah sangat sederhana yang pada masa perjuangan dahulu sempat ditempati Panglima Besar Sudirman selama satu minggu. Karena itulah selain menikmati keindahan alam, pengunjung air terjun Roro Kuning juga bisa sekaligus mengenang perjuangan Panglima Besar Sudirman.

Menurut legenda, nama Roro Kuning ini berasal dari Ruting dan Roro Kuning, dua putri raja yang berasal dari kerajaan Kadiri dan kerajaan Dhoho yang berkuasa sekitar abad ke 11-12 M. Nama asli Ruting adalah Dewi Kilisuci, sedangkan nama asli Roro Kuning adalah Dewi Sekartaji.
1 Suro.




Goa Margo Tresno

 

Nganjuk

Goa yang alam sekitarnya memiliki panorama pegunungan yang  indah dan sejuk ini,
 di desa sugihwaras, kec. ngluyu, kab. nganjuk.

Sejauh 650 meter sebelum masuk pintu goa terdapat kolam yang airnya begitu jernih.
 Luas goa ini kurang lebih 15 x 50 meter dan berhubungan dengan goa Lemah Jeblong. Di sekitar goa ini juga terdapat pula goa yang lain seperti, goa Gondhel, goa Bale, goa Pawon, goa Omah, goa Landak.



Candi Ngetos
 di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, sekitar 17 kilometer arah selatan kota Nganjuk.
 Bangunannya terletak ditepi jalan beraspal antara Kuncir dan Ngetos. Menurut para ahli, berdasarkan bentuknya Candi ini dibuat pada abad XV yaitu pada zaman kerajaan Mojopahid. Dan menurut perkiraan, candi tsb dibuat  tempat pemakaman Raja Prabu Hayam Wuruk dari Majapahit. Bangunan ini secara fisik sudah rusak, dan beberapa bagiannya sudah hilang, sehingga sukar sekali ditemukan bentuk aslinya.
 Arca yang ditemukan di candi ini, yaitu berupa arca Siwa dan arca Wisnu,  Candi Ngetos bersifat Siwa–Wisnu. Kalau dikaitkan dengan agama yang dianut raja Hayam Wuruk, amatlah sesuai yaitu agama Siwa-Wisnu. Menurut seorang ahli , bahwa didekat berdirinya candi ini pernah berdiri candi berukuran lebih kecil sekitar 8 meter persegi, namun bentuk keduanya sama.

Bangunan utama candi tersebut dari batu merah, sehingga akibatnya lebih cepat rusak. Yang masih bisa dilihat tinggal bagian induk candi dengan ukuran sebagai berikut :

Relief
  Pada Candi Ngetos terdapat empat buah, namun sekarang hanya tinggal satu, yang tiga telah hancur.
Di Candi Ngetos sekarang ini tidak didapati lagi satu arcapun. Namun menurut penuturan beberapa penduduk yang dapat dipercaa, bahwa di dalam candi ini terdapat dua buah arca, tempat ludah dan baki yang semuanya terbuat dari kuningan. Krom pernah mengatakan, bahwa di candi diketemukan sebuah arca Wisnu, yang kemudian disimpan di Kediri. Sedangkan yang lain tidak diketahui tempatnya. Meskipun demikian bisa dipastikan bahwa candi Ngetos bersifat Siwa-Wisnu, walaupun mungkin peranan arca Wisnu disini hanya sebagai arca pendamping. Sedangkan arca Siwa sebagai arca yang utama. Hal ini sama dengan arca Hari-Hara yang terdapat di Simping, Sumberjati yang berciri Wisnu.

Candi Ngetos, yang sekarang tinggal bangunan induknya yang sudah rusak itu, dibangun atas prakarsa raja Hayam Wuruk. Tujuan pembuatan candi ini sebagai tempat penyimpanan abu jenasahnya jika kelak wafat. Hayam Wuruk ingin dimakamkan di situ karena daerah Ngetos masih termasuk wilayah Majapahid yang menghadap Gunung WILIS. Pembuatannya diserahkan pada pamannya raja Ngatas Angin, yaitu Raden condro mowo, yang kemudian bergelar Raden Ngabei Selo Purwoto.
Diceritakan, bahwa Raden Ngabei Selopurwoto mempunyai keponakan yang bernama Hayam Wuruk yang menjadi Raja di Mojopahid. Hayam Wuruk semasa hidup sering mengunjungi pamannya dan juga Candi Lor. Wasiatnya kemudian, nanti ketika Hayam Wuruk wafat, jenasahnya dibakar dan abunya disimpan di Candi Ngetos. Namun bukan pada candi yang sekarang ini, melainkan pada candi yang sekarang sudah tidak ada lagi.
 Disekitar candi Ngetos ini terdapat sebuah Paramasoeklapoera, tempat pemakaman Raja Hayam Wuruk.  Selanjutnya diceritakan, bahwa Raja Ngatas Angin R. Ngabei Selupurwoto mempunyai saudara di Kerajaan Bantar Angin Lodoyo (Blitar) bernama Prabu Klono Djatikusumo, yang kelas digantikan oleh Klono Joyoko. Raja-raja ini ditugaskan oleh Hayam Wuruk untuk membuat kompleks percandian. Raden Ngabai Selopurwoto di kompleks Ngatas Angin menugaskan Empu Sakti Supo (Empu Supo) untuk membuat kompleks percandian di Ngetos.


Candi Lor



 





  Merupakan bangunan candi di buat dari batu bata  merah yang diyakini sebagai monumen cikal bakal berdirinya kabupaten Nganjuk yang diperingati setiap tanggal 10 April setiap tahunnya.

Prasasti Anjuk Ladang diketahui bahwa Mpu Sendok, raja  Mataram Hindu yang bergelar Sri Maharaja Sri Isyana Wikrama Dharmottunggadewa memerintahkan Rakai Hinu Sahasra, Rakai Baliswara serta Rakai Kanuruhan pada tahun 937 untuk membangun sebuah bangunan suci bernama Srijayamerta sebagai pertanda penetapan kawasan Anjuk Ladang ( skrg jadi Nganjuk ) sebagai kawasan swatantra atas jasa warga Anjuk Ladang dalam peperangan.
Pada areal Candi Lor terdapat dua makam abdi dalem kinasih Mpu Sindok yang disebut Eyang Kerto dan Eyang Kerti, dan sebatang pohon kepuh yang telah tumbuh sejak tahun 1866, diketahui dari tulisan Hoepermans



Taman Anjuk Ladang

Nganjuk Taman yang indah ini terletak di sekitar Stadion olahraga Anjuk Ladang hanya +/- 2 km arah selatan pusat kota Nganjuk. Merupakan taman yang rindang dan sejuk. Taman ini dilengkapi dengan fasilitas mainan anak seperti: Jogging track dan perkemahan dengan udara yang sejuk dan segar.
Taman Anjuk Ladang juga memiliki koleksi hewan dan para pengunjung dapat mengambil gambar dengan mereka, seperti; rusa, monyet, burung, kuda unta dsb. Taman Anjuk Ladang sering direkomendasikan sebagai taman rekreasi keluarga di Nganjuk .Taman ini juga memiliki panggung untuk beberapa acara khusus, seperti; musik dan teater.


Monumen Dr. Soetomo

Nganjuk Monumen yang menempati tanah seluas 3,5 ha ini, tempat kelahiran Dr. Soetomo. Kompleks bangunan ini terdiri dari patung Dr. Soetomo, Pendopo induk, yang terletak di belakang patung, dan bangunan pringgitan jumlahnya 2 buah masing-masing 6 x 12 m.
Dr.Soetomo merupakan salah satu pahlawan Pergerakan Nasional yang asli berasal dari Nganjuk. Untuk menghormati beliau dibangunlah sebuah monumen sebagai saksi sejarah tentang keberadaan dan kepahlawanannya dalam membela Nusa dan Bangsa. Dr.Soetomo lahir di Nganjuk di Desa Ngepeh Kec.Loceret. Bahkan ari-ari beliau diperkirakan tepat berada dibawah patung Dr. Soetomo yang digambarkan sedang duduk menghadap ke selatan, dan Monumen Dr.Soetomo yang ada di Desa Ngepeh tersebut sebenarnya adalah rumah dari neneknya.


Museum Anjuk Ladang

Nganjuk Museum Anjuk Ladang
 Terletak di kota Nganjuk, tepatnya sebelah timur Terminal Bus Kota Nganjuk, di dalamnya tersimpan benda dan cagar budaya di jaman Hindu, Doho dan Majapahit yang terdapat di daerah Kabupaten Nganjuk. Disamping itu di simpan Prasasti Anjuk Ladang yang merupakan cikal bakal berdirinya Kabupaten Nganjuk.
Museum ini terbagi menjadi beberapa bagian bangunan. Bagian depan berbentuk joglo tempat menyimpan prasasti Anjuk Ladang, bangunan induk sebagai tempat penyimpanan guci, mangkok, wayang kulit, genta, topeng dan sebagainya.

Monumen Jendral Soedirman

Nganjuk Terletak di desa Bajulan, kec. Loceret arah selatan kota Nganjuk, monumen Jend.Soedirman didirikan sebagai tanda bahwa di desa Bajulan pernah disinggahi Panglima Besar Jendral Soedirman selama 9 hari dalam rute perjalanannya memimpin perang gerilya melawan Belanda pada tahun 1949.
3 km dari monumen ke arah selatan terdapat padepokan yang sekarang dijadikan museum, juga tempat wudlu, tempat perundingan, serta tempat shalat yang pernah dipakai beliau selama tinggal di desa Bajulan.



TOKOH-TOKOH
  yang dilahirkan di Nganjuk adalah:

        1. Dr. Soetomo, Pahlawan perinti kemerdekaan Indonesia
            Pendiri Boedi OETOMO organisasi modern pertama indonesia
        2. Bung Tomo, Pahlawan aktivis kemerdekaan terkenal jihad melawan
            Belanda  di Surabaya
        3. Marsinah, aktivis buruh wanita
        4. Harmoko, Menteri  Penerangan
        5. Eko Patrio DPR  2009-2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar